KITAB ALFIYAH IBNU MALIK PDF

adminComment(0)
    Contents:

Matan Alfiyah ibnu Malik. Topics kitab nahwu. Collectionopensource. Language Afar. Matan Alfiyah ibnu Malik. IdentifierMatanAlfiyahIbnuMalik. Download Terjemah Kitab Alfiyah Ibnu Malik Pdf >> DOWNLOAD (Mirror #1). Here is your home to download popular android apps and games related to download terjemah kitab alfiyah ibnu malik pdf. All the best free apps and games .


Kitab Alfiyah Ibnu Malik Pdf

Author:LAILA POLACCO
Language:English, Arabic, French
Country:Ecuador
Genre:Fiction & Literature
Pages:295
Published (Last):01.02.2016
ISBN:883-9-20950-218-5
ePub File Size:21.37 MB
PDF File Size:16.26 MB
Distribution:Free* [*Registration Required]
Downloads:30532
Uploaded by: RUTHANNE

Free download kitab alfiyah ibnu malik pdf for all android phones, tablets and other devices. All the best free kitab alfiyah ibnu malik pdf you want on your. norinkgibipen.gq norinkgibipen.gq Page 3. Page 4. Page 5. Page 6. Page 7. Page 8. Page 9. Page Page Aplikasi ini memberikan pengetahuan tentang belajar isi kitab Alfiyah Ibnu malik terjemahan dalam bahasa indonesia yang berbentuk pdf atau.

Tidak mengherankan jika T. Elliot sastrawan ternama dari Inggris menafsirkan bahwa keindahan karya sastra sangat ditentukan oleh aspek kesastraannya atau estetikanya, sedangkan keagungannya sangat ditentukan oleh pemikirannya. Namun, pemikiran dalam karya sastra selalu melembaga di dalam aspek estetikanya.

Matan Alfiyah ibnu Malik

Oleh karena itu, estetika dan pemikiran dalam sastra tidak bisa dijauhkan eksistensinya. Keduanya menjadi bagian penting yang membangun karya sastra. Menafsirkan dan meretas nilai estetika di dalam karya sastra sama halnya dengan menafsirkan makna pemikiran yang terdapat di dalam karya sastra.

Terminologi Hermeneutik-Sufistik. Pada awalnya keberadaan hermeneutika itu merupakan disiplin ilmu yang banyak digunakan oleh mereka yang berhubungan dengan kitab suci, terutama Injil. Hermeneutika diberdayakan sebagai ilmu untuk menafsirkan kehendak Tuhan kepada manusia, model ini hanya milik kaum penafsir kitab suci, kemudian hermeneutika berkembang dalam berbagai bidang disiplin ilmu yang luas.

Kajian terhadap hermeneutika sebagai sebuah bidang keilmuan mulai marak pada abad ke, di mana kajian hermeneutika semakin berkembang. Hermeneutika tidak hanya mencakup kajian terhadap kitab suci saja teks keagamaan dan teks klasik, melainkan berkembang jauh kepada ilmu yang lain. Adapun ilmu-ilmu yang terkait erat dengan hermeneutika adalah ilmu sejarah, filsafat, hukum, kesusastraan, dan bidang ilmu yang terkait dengan pengetahuan tentang kemanusiaan.

Kata ini sering diasosiasikan dengan nama salah seorang dewa Yunani Hermes yang dianggap sebagai utusan dewa langit.

Dari sinilah hermeneutika terikat kepada dua tugas yaitu, pertama, memastikan isi dan makna sebuah kata atau kalimat dalam teks; kedua, menemukan instruksi-instruksi yang terdapat di dalam bentuk simbolisasi. Di sini ada beberapa hal yang perlu dicatat. Pertama, karya sastra, yang dalam hal ini penulis lebih mengerucutkan pada syair-syair sufistik, karena tradisi para sufi adalah menyusun gagasan-gagasan mereka dalam bentuk puisi, kebiasaan membuat nadhom puitisasi untuk mempermudah mempelajari ilmu-ilmu fiqih, nahwu-shorf gramatikal arab , dan ilmu-ilmu lain yang terwariskan hingga kini di lingkungan pesantren-pesantren Salafiyah konvensional-tradisional merupakan sebuah contoh nyata.

Karya Sastra adalah sebuah simbolisasi yang berarti bukan sekadar mimesis tiruan atas kenyataan inderawi, tetapi pengkiasan mitsal atau salinan menggunakan kias atau simbol terhadap gagasan yang lahir dari pengalaman batin penulis, jadi merupakan salinan daripada sesuatu yang terdapat dalam alam rohani. Kedua, fakulti yang dapat memahami gagasan yang terdapat dalam alam rohani dan transformasinya ke dalam ungkapan estetik yang simbolik ialah akal kontemplatif dan imaginasi kreatif.

abstrak.pdf

Ia adalah intipati pengalaman batin, yang di dalamnya kehadiran ucapan teofani dan pancaran alam kerohanian dapat dimungkinkan keberadaannya Corbin, Dalam kaitannya dengan teks sebagai peristiwa bahasa dan sekaligus model dari tindakan pemikiran dan perenungan, imaginasi jelas sangat diperlukan. Pertama-tama karena kedudukan kata-kata dan ungkapan kunci tertentu dalam teks sangat unik, bukan semata-mata sebagai penuturan logis, melainkan sebagai penuturan simbolik yang penuh nuansa.

Sebagaimana imaginasi kreatif, dunia yang ditempati makna terdalam teks adalah alam yang lebih tinggi dari alam perasaan dan pikiran biasa. Pendekatan Iqbal dan Heidegger terhadap sastra, khususnya puisi atau syair, ternyata berfaedah sebagai landasan untuk memahami berbagai ragam karya spiritualistik, sufistik, dan profetik yang muncul selama beberapa dasawarsa ini di Timur maupun Barat. Jika Heidegger menunjuk puisi-puisi Hoerderlin sebagai contoh karya sastra yang membawakan pesan dan semangat profetik, suatu semangat vital yang telah ditinggalkan oleh cita-cita ilmu pengetahuan modern, maka Iqbal menunjukkan Jalaludin Rumi sebagai idola baru bagi kemanusiaan karena puisi-puisinya yang agung dalam Matsnawi.

Menurut Nasr, dalam tradisi Islam puisi merupakan bagian dari upaya mencapai apa yang disebut hikmah, dan sebagai upaya kerohanian ia membantu mengajak manusia kembali ke wujudnya yang lebih tinggi dan ke kesadaran yang lebih tinggi pula. Dengan tanpa sengaja, dalam syauq yang begitu memuncak, penulis melontarkan salah satu bait dari syair master piecenya Ibnu Malik.

Dan kemudian timbullah hasrat untuk mengupas syair-syair Alfiyah Ibnu Malik dengan pisau analisa tasawuf. Melakukan analisa terhadap syair Alfiyah dengan menggunakan kaca mata hermeneutik-sufistik seperti pemahaman di atas, tidak saja akan menemukan pesan awal yang terkandung dalam konstruksi syair tersebut, melainkan juga akan menemukan satu sisi penting yang tersimpan dalam simbol-simbol kasusastraan sebuah karya sastra, dan pembacaan seperti itu tidak akan bisa terlaksana kecuali dengan menggunakan kaca mata hermeneutik-sufistik.

Kitab Alfiyah Ibnu Malik merupakan kitab yang berisi kurang lebih bait syair gramatikal, yakni syair yang mengulas seputar pembahasan ilmu gramatikal nahwu-shorf.

Namun, menurut penulis kitab Alfiyah ini merupakan sebuah rajutan yang memadukan genre eksoteris dan esoteris. Dimensi eksoteris terlihat dari pembacaan biasa pembacaan seputar nahwu-shorf kita atas syair-syair itu, sedangkan dimensi esoteris hanya akan kita temukan jika kita mau melakukan pembacaan hermeneutik atas syair-syair itu.

Dimensi esoteris Alfiyah Ibnu Malik mendapuk peran perasa batin mistisisme cinta , dan penyingkapan intuitif mistisisme makrifat dalam mengencani teks-teks agama. Mistisime Makrifat menurut Ibnu Malik. Manusia Makhluk Makrokosmos. Dalam syair di atas, sang pujangga Andalus menjelaskan bahwasanya kita manusia merupakan makhluk yang tiada beda antara satu dengan yang lainnya, kita tak ada bedanya dengan hewan, kita tak ada bedanya dengan Jin, bahkan kita tak ada bedanya dengan Malaikat. Kita manusia dianugerahi akal-pikiran, sehingga -selain dapat membedakan dirinya dengan makhluk lainya- kita dapat mencari cahaya kebenaran yang sejati.

Karena —perlu diingat- jika manusia mampu menemukan cahaya kebenaran tersebut, maka sejatinya ia lebih mulia dari Malaikat, sebab dengan menemukan cahaya kebenaran, hal itu merupakan sebuah pertanda bahwa manusia mampu melawan hawa nafsunya, sedangkan Malaikat tercipta dengan tanpa hawa nafsu, maka tak heran jika mereka selalu taat beribadah.

Namun jika ia manusia terjerumus dalam jurang nafsu, maka ia tak jauh bedanya dengan hewan, bahkan ia lebih hina dari hewan, sebab ia sudah diberikan akal-pikiran, tapi tidak ia pergunakan, sedangkan hewan tidak diberikan akal-pikiran, maka tak heran jika hewan tak bisa membedakan mana yang baik dan buruk. Selain itu, manusia merupakan makhluk makrokosmos, kenapa? Ada beberapa alasan mengapa manusia penulis sebut sebagai makhluk makrokosmos dan bukan mikrokosmos 19 : Pertama, manusia adalah kunci memahami jagad alam semesta ini.

Manusia adalah penakar dan pemberi nilai-nilai terhadap segala yang ada. Manusia adalah makhluk yang sudah ditakdirkan Tuhan menjadi rahmatan lil alamin. Rahmat dan pengayom bagi seluruh alam. Manusia lah yang mampu untuk mengukur besar kecilnya kosmos alam semesta.

Títulos relacionados

Manusia bisa memberi arti sekecil-kecilnya terhadap alam semesta hingga ada di genggaman tangannya, namun juga manusia bisa memberi arti sebesar-besarnnya terhadap alam semesta. Kedua, ukuran besarnya alam secara fisik memang lebih besar dari manusia. Namun secara metafisis, harusnya alam semesta lebih kecil daripada kosmos-nya manusia. Pemahaman idealistik ini lebih memberi manfaat praktis untuk memperbaiki dunia yang sudah sedemikian rusak. Ketiga, manusia bukan bagian kecil dari dunia yang bisa kita lihat dengan mata dan bisa kita dengar dengan telinga ini.

Justru dunialah yang merupakan bagian kecil dari manusia. Sebab manusia bisa mengulur dan mengkerutkan ukuran dunia fisik ini hanya bahkan sebesar pasir. Contoh kecil yang bisa penulis ambil, coba kalian pejamkan mata segelap-gelapnya untuk beberapa lama atau dalam istilah Jawa sering disebut meditasi, maka kalian akan menemukan dan merasakan dunia yang lebih besar dari dunia fisik ini.

Manusia memang bertempat, karena ia hanyalah sebuah materi yang tersusun dari banyak partikel, ia hanyalah sebuah benda yang dapat berfikir, namun dengan berfikir itulah, manusia dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, dengan berfikir itulah manusia merupakan makhluk makrokosmos dan bukan mikrokosmos.

Mengingat akan hal itu, tidak sewajarnya jika kita terjebak dalam dunia yang sempit ini, tidak patut makhluk seperti manusia terjerumus dalam fatamorgana dunia, karena manusia merupakan kholifah dalam dunia ini, maka sepatutnya ia menjadi penerang, bahkan pemegang kuasa atas dunia, bukan malah terjebak dalam fatamorgana sesaat.

Mulai sekarang, mungkin kita harus memulai hidup dengan mengunakan akal kita, kita harus mulai bertafakkur atas segala kejadian yang ada di jagad raya ini, karena dengan bertafakkur, kita akan belajar apa arti kehidupan, kita juga akan menyadari kewajiban orang hidup tidak lain adalah selalu berusaha menjadikan daya potensial yang ada di dalam dirinya menjadi suatu bentuk aksi perbuatan yg bermanfaat, maka dengan demikian kita aka berhasil menguak ajaran sangkan paraning dumadi asal kejadian kita.

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Artikel ini adalah bagian dari ProyekWiki Biografi. Gunakan Wikipedia: Informasi lebih lanjut: Templat kutipan. Cetak tebal adalah yang sangat terkemuka di zamannya, metode penentuan abad seorang ulama dengan tahun wafatnya , Lihat Panduan Penggunaan.

Diperoleh dari " https: Kategori tersembunyi: Selain penafsiran di atas seseorang harus menata hatinya , dapat juga diartikan bahwasanya seseorang harus mampu menghadirkan Tuhan dalam hatinya dalam keadaan apapun, kapanpun, dan dimanapun ia berada.

Tapi, bagaimana melihat-Nya. Karena Tuhan itu tidak memiliki rupa. Tuhan tidak berarah dan tidak berwarna. Tidak ada wujud-Nya. Tidak terikat oleh waktu dan tempat. Sebenarnya Ada-Nya itu tiada. Seandainya Dia tidak ada, maka alam raya ini kosong dan tidak ada wujudnya.

Setelah salik pencari makrifat mampu menata hatinya, ia kemudian harus seperti lafadz dzi isim isyaroh , yakni ia harus membuktikan keyakinan dalam hatinya tersebut dengan isyaroh.

Isyaroh terhadap Allah swt cukup dengan kita melaksanakan segala perintah-Nya serta menjauhi segala larangan-Nya. Nah apa yang dikerjakan oleh Wali Songo dan Kanjeng Nabi itu tak lain karena pentingnya isyaroh dengan cara melaksanakan apa yang diwajibkan oleh Allah, karena ibaratnya kita ingin pergi ke suatu tempat, kita tahu dimana tempatnya, namun jika kita hanya sekedar tahu tapi tidak berusaha untuk bisa ke sana, maka kita tidak mungkin bisa sampai ke tempat itu.

Alasan penting lain untuk mendapatkan pendampingan mursyid yang tepat ialah bahwa kita selalu merupakan produk dari saat yang terakhir, dan karena saat itu dilahirkan dari saat sebelumnya, dan begitu seterusnya, ada suatu kesinambungan. Seseorang yang berdiri sendiri tak dapat menyadari seberapa jauh ia telah menyimpang dari jalan pengetahuan-diri atau penyadaran-diri.

Dengan demikian, seorang pencari memerlukan teman untuk menggambarkan kepadanya, seperti cermin, tentang keadaan atau kedudukannya. Sebagaimana dalam kasus ilmu fisika atau ilmu alam, di mana tak diragukan lagi kita akan cenderung mengikuti seseorang yang mempunyai pengalaman dan kualifikasi yang lebih banyak dalam ilmu-ilmu tersebut, maka prinsip ini pun berlaku pada ilmu tentang Tuhan Makrifat.

Pada tingkat fisik, kita secara konstan berusaha ke arah keselarasan dan tindakan yang benar, dan kita mengikuti orang yang ahli dalam bidang ini. Demikian pula bagi keselarasan batin, orang yang paling memenuhi syarat adalah syekh spriritual sufi yang sejati.

Namun, ada suatu perbedaan antara ilmu lahir dan ilmu batin. Dalam ilmu lahir, segala cacat dan kekurangsempurnaan dapat dideteksi dengan mudah. Tidak demikian halnya dengan ilmu batin, misalnya, dimana seseorang dapat tersenyum padahal sebenarnya ia sangat resah. Pengetahuan tentang ilmu batin memerlukan spesialisasi yang lebih dalam. Hakekat batin berhubungan dengan esensi dan sumber.

Apabila hakikat batin mendatangi sumber, maka terjadilah kesatuan. Apabila orang bergerak menjauhi sumber cahaya, maka ia akan membeda-bedakan dan melihat berbagai bayangan yang berbeda serta profil yang berbeda-beda.

Makin dekat orang mendatangi sumber cahaya, makin sedikit ia melihat perbedaan, sampai ia silau dan tenggelam serta terliputi oleh cahaya itu sendiri. Dalam artian, apabila seseorang telah mengambil seorang guru sufi sejati secara benar maka pada hakikatnya ia telah mengambil semua guru sufi.

Dan sangatlah keliru jika kita mengira bahwa orang dapat membuang satu guru sufi lalu pergi kepada guru lainnya, kecuali apabila yang pertama tidak becus. Kemudian ketika si salik berkembang dan bergerak maju, ia akan selalu dapat melihat dirinya diawasi oleh sang guru rohani serta para guru-guru beliau karena rasa hormat sang guru rohani sendiri kepada guru-gurunya.

Pencari yang cerdas akan selalu hidup dan berperilaku seakan-akan semua syekh sufi yang telah ditemui sedang mengawasinya, sedang benar-benar ada bersama dia dan menjadi pembimbing, pemberi peringatan, dan sahabatnya.

Perjuangan salik tidak langsung berhenti sebab sudah menaiki tiga tangga di atas, namun setelah itu masih banyak lagi tangga-tangga menuju istana Tuhan, tidak mudah memang untuk mendapatkan maqom makrifat, karena semakin tinggi tangga yang kita naiki, maka tingkat kesulitan pun semakin berat, ibaratnya semakin tinggi kita mendaki gunung, semakin berat resikonya kalau kita terjatuh.

Dalam setiap waktu dan setiap perbuatan, salik harus mampu menyandarkannya kepada Dzat yang maha kuasa, saat dia makan, ia harus sadar bahwa itu bisa dilakukan karena nikmat-Nya, saat ia sakit, ia harus sadar bahwa sakitnya itu merupakan bukti kasih sayang-Nya, pokoknya dalam keadaan apapun ia harus sadar bahwa semuanya berasal dari Dzat kang ngeratuni jagad.

Selain itu, pengajaran tentang penyandaran diri kepada Allah pun tertuang dalam Layang Djoyoboyo disana disebutkan bahwasanya manusia harus selalu ingat dan menyandarkan segala sesuatu yang kita kerjakan disepanjang siang dan malam hanya kepada Gusti kang maha witjaksono, karena hanya Beliaulah Allah yang patut mendapatkan penghargaan tinggi seperti itu.

Djoborolo Duh Gusti engkang moho witjaksono. Tjahyonipon rino pandjenengan sampon sirno, bali marang udjute wengi sangkeng kuwoso pandjenengan. Slametake Ingsoen ing dalu meniko, sirnakake bsitean kang tansah anggudo kawulo, slamet sangkeng kuwasanipon pandjenengan.

Opo kuwi pantes kanggone siro bongoso Djowo, ora nyembah Gusti kang pareng sabdho kanggone siro. Lan sabdhoning Gusti kang uwes temuron kanggo djalmo manungso kang ono ing djagat iki, ora bakal biso diowahi.

Other books: TDA6106Q DOWNLOAD

Lan semono ugo ukumane Gusti kanggone bongoso Djowo. Oleh sebab itulah, untuk mencapai maqom makrifat, seorang salik harus menanamkan rasa ikhlas dalam dirinya, ikhlas yang dimaksud adalah dengan menyandarkan segala sesuatu yang ia kerjakan hanya kepada Allah swt saja, dengan tanpa adanya embel-embel qoyyid dalam setiap ibadahnya.

Keistimewaan yang harus dimiliki oleh salik tercermin dalam usaha-usaha pendekatan diri kepada Allah swt, hal itu bisa jadi dari segi keilmuan, dengan kata lain keilmuan salik harus lebih istimewa dari orang umum, atau dari segi ritual ibadah, dengan kata lain salik harus mempunyai nilai lebih dalam beribadah, mungkin dengan sering melakukan sholat sunnah, atau bahkan puasa sunnah dll, atau mungkin juga dari segi akhlaq, yakni salik harus mempunyai nilai akhlaq karimah, baik itu terpatri dalam diri salik ataupun tercermin dalam tindakan-tindakan social, dan masih banyak lagi keistimewaan yang bisa diusahakan oleh salik dalam proses menuju makrifat.

Sebenarnya yang harus dilakukan salik agar medapat keistimewaan atau lebih menonjol dibanding orang pada umumnya, ia harus berusaha keras memperbaiki sifat-sifatnya, karena sifatnya lah yang mencerminkan tingkah ibadah, social, pribadi dan semua yang berhubungan dengan kehidupannya.

Dalam diktat kuliyah penulis yang berjudul al-Misbah al-Munir, penulis buku ini; Dr. Selain taqwa salik juga harus ridho dengan qodho dan qodar Allah, dengan kata lain, ia harus menerima apapun yang Allah takdirkan untuknya, walaupun usaha yang dilakukan tidak sepadan dengan hasil yang ia dapatkan, ia harus mampu menerimanya, walaupun diberi cobaan dengan kemiskinan yang amat sangat lama, ia juga mampu menerimanya dengan ikhlas dan sabar, pokoknya ia harus mampu menerimana apapun pemberian Allah swt dengan lapang dada.

Karena menurut sabda Nabi dalam salah satu riwayatnya, kita semua adalah pemimpin dan harus mempertanggung jawabkan apa yang ia pimpin. Kapanpun, bagaimanapun kondisinya, ia harus mampu mengajak pribadinya untuk taqorrub ila Allah.

Pada tangga yang terakhir ini, seorang salik harus mampu seperti lafadz alladzi isim mausul , dengan kata lain salik harus mampu menghadirkan Tuhan dalam setiap amal ibadahnya, pikiran dan jiwanya harus bisa terpusat pada satu titik, Allah pencipta jagad, saat ia melaksanakan segala sesuatu dalam kehidupannya, ia harus mampu wusul dengan Allah swt, merasakan kehadiran Allah dalam setiap pekerjaannya, bahkan kalau bisa ia harus mampu manunggaling kawulo Gusti, yakni dengan merasakan kehadiran Allah dalam dirinya, karena sebagaimana wejangan kanjeng Sunan Kalijaga dalam Serat Siti Jenar ia mengatakan bahwa sejatinya Tuhan tidak berarah dan tidak berwarna, tidak ada wujud-Nya, tidak terikat oleh waktu dan tempat, sebenarnya Ada-Nya itu tiada, seandainya Dia tidak ada, maka alam raya ini kosong dan tidak ada wujudnya.

Nah maka dari itu untuk bisa melihat Tuhan, manusia harus bisa mengenal Tuhan, menghadirkan-Nya dalam semua amal perbuatannya, bahkan manusia harus bisa menyatukan-Nya dalam hati.

Dengan kata lain manusia sudah tinggal aku sejatinya saja. Bersemayam, mencair dan menguap bersama Gusti. Ia sudah melekat menjadi cahaya bersama-Nya. Tidak mengenal kematian, karena menurutnya yang ada hanyalah Tuhan. Rentangan kejadian yang ada di alam semesta dilihatnya dengan diam. Semua gerakan batin yang menggelora ada dalam kekuasaannya. Bila selama ini dia hanya bisa meraba-raba, sekarang dia sudah dengan sangat gamblang membaca agenda tersebut.

Komunikasi dengan Gusti sudah berubah bermetamorfosis menjadi satu wujud dengan-Nya, karena kawulo sudah manunggal dengan Gustinya, yakni manunggal dalam kesempurnaannya.Bekerja rajin 9. Bila selama ini dia hanya bisa meraba-raba, sekarang dia sudah dengan sangat gamblang membaca agenda tersebut. Ibn Malik sangat produktif dalam berkarya, beliau dianugrahi kemampuan dan bakat yang luar biasa dalam menulis. Wilton O'Reilly After conversion, all the original text,35 2. Ahmad Shofi Muhyiddin Episode 1 Bahasa Arab diakui sebagai satu-satunya bahasa dunia yang paling komprehensif; ia memiliki kekayaan metodologi dan kosa kata yag melimpah ruah.